Global Traveler Community Video

Berikut adalah video gambaran tentang Global Traveler Community sebagai tugas tambahan dari apa yang pernah saya post sebelumnya di sini.

Kurang lebih, ini merupakan sebuah jaringan untuk traveler dari seluruh penjuru dunia, dimana mereka bisa menjalin jejaring sosial, mendapatkan banyak informasi tentang traveling, tips-tips hasil sharing antar traveler, dan juga membership yang memberikan banyak diskon dan keuntungan terutama untuk para budget traveler. Pendapatan dari jejaring sosial ini didapat dari partnership yang memasang iklan di web, dan juga biaya membership sebanyak 10 USD per orang, per tahunnya. Dengan mengutamakan High Technology di bidang IT dan network yang luas, diharapkan Global Traveler Community dapat menarik jutaan traveler dari seluruh dunia.


Sour Sally

Sour Sally Business Model

Jarang sekali warga kota Jakarta dan sekitarnya yang tidak akrab dengan Sour Sally. Sebagai pelopor Premium Frozen Yoghurt di Indonesia, tidak heran jika Sour Sally menjadi top of mind para customernya. Namun ternyata tidak banyak yang tahu bahwa perintis owner dari Sour Sally adalah orang Indonesia yang tidak lain adalah Donny Pramono yang berhasil membawa trend Frozen Yoghurt ke Indonesia dari Amerika.

Sour Sally Frozen Yoghurt

Sour Sally memberi warna tersendiri terhadap produk varian dessert yang ada di Indonesia. Branding dengan warna-warna pastel, image yang segar, dan icon Sally yang menarik merupakan racikan bisnis yang sempurna yang membuat mereka tepat sasaran terhadap target market mereka yaitu masyarakat urban modern. Konsistensi dari setiap service dan layout design di setiap outlet mereka membuat mereka benar-benar terlihat professional, sekaligus begitu terlihat international.

Untuk business modelnya, secara general, pendapatan mereka berasal dari penjualan mereka. Untuk menjalin relasi yang baik dengan customer mereka, mereka juga memiliki membership dan juga beberapa seasonal promotion untuk pemegang kartu kredit BCA dan HSBC misalnya seperti buy one get one free atau up size. Cost mereka kurang lebih adalah untuk partnership, management, dan biaya promosi lainnya.

Go International
Hingga saat ini, satu-satunya branch Sour Sally yang ada di luar Indonesia ada di Wisma Astria, Singapore. Dengan besarnya pasar Frozen Yoghurt di luar sana, ini merupakan peluang besar bagi Sour Sally untuk melakukan expansi pasar ke luar negeri. Terlebih, image dan bahasa yang dibawa oleh Sour Sally merupakan image global yang tidak kalah dengan perusahaan-perusahaan besar yang sudah berdiri lama jauh sebelumnya.

Issue kesehatan yang sudah menjadi issue global sekarang juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu bagi Sour Sally yang juga bisa membantu menurunkan kolesterol. Menurut saya dengan brand dan marketing strategy yang Sour Sally miliki sekarang dipadu dengan issue dan trend yang sedang berlangsung di pasar merupakan sebuah moment yang sempurna bagi PT Berjaya Sally Ceria untuk bermain di kancah International. Belum lagi ditambah dengan respon yang bagus dari para customer di Singapore.

Mungkin, kalau business model Sour Sally bisa dijadikan franchise international hasilnya bisa sekaliber seperti Auntie Anne’s, Haagen Daz, atau DQ Julius kali ya? Jadi pendapatannya pun juga bisa didapat dari persenan penjualan para franchiser-franchiser nya. Dan modal yang diperlukan juga menjadi tidak terlalu banyak. Bisa dibilang ini menjadi business yang low-cost tapi high-profit.

Anyway, mau tau lebih banyak tentang Sour Sally? Silahkan berkunjung ke website dengan layout lucu, interaktif, dan khas Sour Sally banget di http://www.hellosoursally.com/ dan http://www.mysoursally.com/


Sepenggal Perjalanan

Selama prosesnya, kuliah Creativity and Innovation ini telah banyak menstimulan otak kanan saya. Dari proses berpikir kreatif, jenis dan contoh-contoh dari bisnis model, inspirasi dari dosen tamu, hingga banyak case, produk, dan perusahaan-perusahaan yang sukses karena inovasi-inovasinya.

Dimulai dari post pertama, ketika saya diminta untuk mencari arti nama saya pada post pertama, dan melihat post dari teman-teman lain bahwa mereka benar-benar mencari arti nama mereka, lalu saya berpikir, ini kan kelas creativity and innovation, kenapa saya tidak mengira-ngira atau mengandai-andai saja arti namanya? Dengan kata lain, saya merasa bahwa di kelas ini selain distimulan untuk “menemukan” tapi saya juga diajarkan untuk “menciptakan” sesuatu yang baru. Hal yang sama terjadi pada post kedua, kami diminta untuk membuat post tentang senjata. Setelah berolah pikir, ternyata senjata bisa berupa banyak hal. Tidak selalu berbentuk pistol atau pedang. Bertamasya ke blog-blog teman-teman sekelas benar-benar memperkaya gudang “persenjataan” saya.

Dalam perjalanannya, saya juga mengerti lebih dalam tentang perbedaan antara kreativitas dan inovasi. Ketika kreativitas berarti mengolah pikiran-pikiran kita untuk menciptakan sesuatu yang baru, inovasi merupakan sebuah pengemasan namun dengan cara yang lebih baru lagi. Kurang lebih, creativity & innovation ini merupakan alat untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang kita temui dalam kehidupan kita atau solusi dan jawaban untuk mengatasinya. See, how important it is for us to have such a creativity and innovation skill in our life?

Di kelas ini juga kita distimulasi tidak hanya untuk berpikir kreatif, tetapi juga analitis. Di post berikutnya, kita diajak untuk menganalisis hal yang paling inovatif di dalam segi apapun dalam kehidupan kita. Dan saya memilih “Pintu Kemana Saja”-nya Doraemon sebagai hal yang paling inovatif dalam imajinasi saya. Berdasar pada kecintaan saya pada traveling dan jalan-jalan, jadi menurut saya pintu kemana saja merupakan hal yang luar biasa jika itu benar-benar ada. Cita-cita saya untuk keliling dunia sebelum umur 26 akan jauh lebih mudah tercapai kalau saya memilikinya. Haha.

Analisis selanjutnya dilakukan lebih serius yaitu kita harus menganalis bagaimana teknologi, proses, dan business model dari perusahaan-perusahaan top dunia. Dan sebagai pengguna Apple yang tidak terlalu setia (karena sejak ada Blackberry, iPhone saya bertransformasi menjadi iPod touch), saya merasa inovasi yang dilakukan oleh Steve Jobs memang begitu luar biasa. Dari sana saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, bagaimana teknologi dan proses dari perusahaan ini bisa berjalan. Yang paling mengejutkan untuk saya, dalam proses inovasinya, Apple tidak pernah melakukan market research! Well, no wonder why they can be so amazingly creative and the great thing is they still can reach their target market.

Post selanjutnya merupakan tugas-tugas yang diberikan untuk merangkum kuliah dari dosen tamu Kak Adi Panuntun. Ketika saya diminta untuk menghubungkan spidol dan apel, saya memilih untuk mengungkapkannya melalui cerita yang dikemas seperti dongeng cerita anak. Disini saya distimulasi untuk bercerita. Didalam real bisnis, produk-produk kita harus punya value, dan dari value itu kita harus bisa bercerita.

Begitu banyak masukan dan insight dari kuliah Kak Adi Panuntun saat itu. Mendapat pengajaran dari seorang praktisi di bidang kreatif sungguh memberi dampak tersendiri bagi saya untuk melihat aplikasi nyata bahwa kreatif itu tidak melulu berbicara tentang estetika dan desain, tapi lebih kepada proses dan penemuan solusi-solusi yang dimana akan selalu menuntut saya untuk terus berinovasi jika saya ingin berkecimpung di bidang wirausaha nantinya.

Inovasi selalu berjalan berdampingan bersama dengan teknologi. Berangkat dari sana, kami diajak untuk melihat teknologi jauh kedepan dengan melihat mimpi dari NTT Docomo yang membuat saya takjub dan takut dalam waktu yang bersamaan. Di video ini jelas dipaparkan segala sisi positif dari segala kemajuan teknologi, yang dimana semuanya cenderung mengarah pada arus informasi dan komunikasi. Namun disisi lain, melihat kemajuan teknologi ini juga membuat saya takut bahwa teknologi ini bisa mengurangi banyak sisi humanis yang tidak diperkirakan sebelumnya. Ini membuat saya berpikir kembali, kira-kira peluang apa di luar sana yang bisa membawa peradaban menjadi lebih maju namun tetap membawa sisi-sisi kemanusian tetap pada peradabannya.

Setelah diberi banyak pengetahuan tentang business model, kami diajak untuk mengaplikasikannya dengan membuat business model dengan beberapa topik pilihan. Saya memilih Global Traveler Community sebagai contoh saya pada saat itu. Disini saya diajak berpikir tentang basis value nya, apa saja yang menyebabkan cost dari bisnis ini, dan darimana saya bisa memperoleh profit dari bisnis model yang saya buat. Skema business model yang diajarkan di kelas ini seperti merangkum apa yang telah saya pelajari selama hampir 3 tahun kuliah di SBM. Sangat aplikatif dan ini bisa dijadikan dasar untuk memulai maupun mengevaluasi rencana bisnis secara nyata.

Bisa dibilang, kelas ini telah banyak menginspirasi saya dari setiap teori dan berbagai praktek yang diberikan. Mengajak kita untuk keluar dari setiap batasan asumsi lalu beranjak keluar dari ruang pikiran kita, dan mengajak kita duduk sejenak, berefleksi dari sisi lain yang belum pernah kita explorasi sebelumnya. Ternyata memang benar, begitu banyak sudut yang belum kita lihat, ternyata horizon itu memang lebih luas daripada kelihatannya.

Singkatnya, bagi saya, kuliah Creativity & Innovation seperti memakaikan kacamata baru bagi setiap mahasiswanya.

Salam kreatif!


Sebuah penemuan

Menulis blog merupakan sebuah relaksasi bagi saya, lebih tepatnya sebagai sarana untuk menampung isi dari kepala yang tumpah ruah dengan berbagai macam cerita kehidupan yang saya lewati sehari-harinya. Mungkin menulis blog bukanlah hal yang baru, karena sejak SMP, puisi dan prosa pendek sudah menjadi kemasan yang selalu saya gunakan dalam kebiasaan bermain kata-kata disetiap lembaran personal blog saya. Kecintaan ini bermula dari kesenangan saya membaca sastra-sastra ringan, seperti karya-karya Dewi Dee Lestari, Romo Mangun, Djaenar Maesa Ayu, dan beberapa antalogi puisi, seperti Antalogi Puisi Bunga Matahari misalnya. Dari merekalah saya menabung banyak kosa kata baru dan belajar meraciknya agar mampu memiliki rima estetik atau sekedar merumuskan filosofi baru yang bersembunyi dibalik arti dari setiap kata itu sendiri.

Pengalaman untuk menulis blog seperti yang saya lakukan di kelas Creativity and Innovation amatlah berbeda dengan kebiasaan menulis saya. Jujur, saya tidak terbiasa untuk menulis blog tentang tulisan ilmiah ataupun menjabarkan ide dengan rentetan paragraf yang cukup panjang. Dan lagi, blog ini menuntut sebuah penilaian, sehingga meskipun kita distimulasi untuk berpikir kreatif, saya seperti merasa harus menuntut diri saya sendiri untuk menuliskan yang terbaik, yang terkreatif, tidak selepas dan sebebas ketika saya menulis di personal blog saya. Hal ini terkadang membuat saya menemukan kesulitan dalam pengemasan bahasa yang saya gunakan. Jangan heran jika Anda menemukan beberapa gaya bahasa dalam posting-posting saya sebelumnya akan berbeda-beda satu sama lain, terkadang cenderung formal, bisa semi formal, atau bahkan jauh dari formal.

Di dalam perjalanan menulis blog CI ini, saya hampir selalu berusaha menyertakan beberapa gambar atau video. Selain karena kebiasaan menulis prosa pendek cukup menghambat saya dalam menjabarkan ide saya dalam tulisan yang panjang, saya menemukan video dan gambar sebagai sarana yang mempermudah baik saya sebagai penulis, maupun pembaca untuk menangkap maksud dari ide saya tanpa harus menghabiskan waktunya untuk membaca. Melalui pendekatan ini saya juga berharap dapat memberikan kesan tersendiri bagi pembaca agar informasi yang mereka serap bisa tidak begitu saja lewat, namun bisa tetap diingat. Meskipun pada awalnya saya menemukan beberapakali kesulitan dalam mengupload video pertama saya, namun setelah mencoba beberapa cara, akhirnya saya berhasil menguploadnya via vimeo.

Dengan pengalaman ini, saya juga jadi belajar untuk menemukan sisi dari diri saya yang lain di dalam menulis. Kalau di personal blog, saya cenderung konsisten dengan gaya bahasa yang sama, yang sudah menjadi kebiasaan saya dan membuat saya nyaman, namun diblog CI ini saya menemukan sebuah kebebasan saya yang lain. Dengan mengatasnamakan kreativitas, disini saya berusaha berinovasi dengan berbagai macam gaya tulisan dan juga mengulik bagian lain dari pikiran saya.

Lewat proses berpikir kreatif ini pula saya berani untuk menulis karangan atau lebih tepatnya mengarang-ngarang berdasarkan tema yang diberikan, sementara mengarang bukanlah sesuatu yang menjadi keahlian saya. Karena personal blog saya berisi prosa-prosa pendek yang terinspirasi dari kehidupan saya sehari-hari sementara blog CI ini memberikan stimulasi lain. Saya seakan diajak untuk beranjak dari zona nyaman saya dan berpikir hal-hal yang di luar zona yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Terimakasih kepada Bapak Agus Nggermanto atau Pak Apiq dan Kak Bayu serta dosen tamu kak Adi Panuntun yang telah memberikan inspirasi dan berbagai macam teori dan praktik dari ilmu tentang proses berpikir kreatif ini. Ruang kelas menjadi terasa begitu luas melalui blog-blog yang bermunculan, tidak hanya memberi ruang untuk bertukar informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk berolah pikir bagi kami para mahasiswa yang masih harus terus belajar.


Global Traveler Community

Global Traveler Community Business Model

Sebagai pecinta traveling dan sejak 9 bulan yang lalu menjadi seorang traveler mandiri yang berhasil mengunjungi belasan negara di Eropa bahkan hingga melancong sampai ke Afrika, muncullah ide dari kepala saya untuk membuat sebuah social network bagi para budget traveler di seluruh dunia. Ide ini sebetulnya dibuat dengan tujuan untuk memperkecil resiko bagi para budget traveler dan mempermudah para traveler untuk membuat itinerary perjalanannya. Pada intinya, pada saat memutuskan untuk traveling, biasanya informasi yang dibutuhkan adalah transportasi, akomodasi, dan gambaran tentang keadaan lokal yang ada disana. Untuk menjawab kebutuhan akan informasi tersebut, maka tercetuslah ide Global Traveler Community.

Global Traveler Community adalah sebuah social network khusus untuk para budget travelers dari seluruh dunia. Tidak hanya informasi dan jaringan sosial yang luas, tetapi relasi dengan berbagai local tourism department, tempat-tempat kunjungan wisata, hostelworld.com, international telecommunication operator, dan juga budget airlines dari seluruh dunia membuat komunitas ini menjadi situs yang tepat untuk mencari transportasi dan akomodasi dengan harga yang murah meriah. Dengan mendapatkan teman yang memiliki minat traveling yang sama, jika beruntung anda bisa mendapatkan teman dari seluruh dunia yang dapat menampung anda ketika anda berkunjung ke negara tujuan.

Caranya mudah, cukup bergabung dengan membayar membership fee 5 USD per tahun, dan anda akan mendapatkan segala kemudahan dan akses untuk mengetahui informasi dan kiat-kiat dalam bertraveling ke seluruh penjuru dunia. Untuk sign up dan bergabung, sudah merupakan kewajiban untuk mencantumkan informasi yang sebenar-benarnya, demi keamanan semua anggota komunitas ini.

Untuk business modelnya sendiri, semua pendapatan dari komunitas ini berasal dari membership fees dan juga berbagai macam bentuk kerjasama dengan berbagai pihak. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih adalah IT maintenance, gaji karyawan, biaya management, promosi, dan partnership.

Secara keseluruhan ide ini akan menguntungkan bagi banyak pihak. Selain menstimulan perkembangan tourism sites di berbagai belahan dunia, bisnis-bisnis seperti hostels, budget airlines, soevenir shops, juga diuntungkan dengan adanya arus pergerakan para pelancong di seluruh dunia. Disini, Global Traveler Community berperan sebagai sarana, wadah, dan penghubung dari semua pihak yang bersangkutan tersebut.


Takut

Hello folks!

Kali ini, kita bakal ngebahas videonya NTT DOCOMO Vision 2020 Culture Symphony. Buat yang belum liat videonya, liat dulu yuk!

Nah, gimana menurut kalian? Kurang lebih video ini bakal ngegambarin tentang teknologi di tahun 2020 nanti. Disana diceritain tentang jarak dan waktu itu udah gak ada artinya lagi. Tinggal lirik ke layar kaca, nanti itu akan otomatis kehubung ke orang yang mau kita hubungin. Semua hubungan, dari relatif, teman, keluarga, sampe bisnis pun jadi lebih mudah. Karena gak usah ketemu langsung, tapi uda bisa komunikasi. Arus informasi dan ilmu pengetahuan pun jadi lebih lancar, dari bahasa hingga science, semua udah diprogram. Komunikasi dengan siapapun, dengan bahasa apapun, harusnya lebih lancar.

Dengan segala kekerenan teknologi ini, entah kenapa gw jadi kagum, excited tapi sekaligus takut. Takut semuanya jadi serba artifisial, terus komunikasi yang super lancar itu malah bikin kita jadi effortless buat ngapa-ngapain. Emang sih, tujuan utama dari teknologi adalah mempermudah kehidupan manusia, tapi gw gak kebayang gimana jadinya kehidupan kita nanti.

Bayangin deh, coba kita liat dari teknologi Blackberry yang ada sekarang. Bener, kalo itu mempermudah komunikasi dan arus informasi buat komunitasnya. Tapi liat lagi deh, sekarang gak cuma yang jauh aja jadi kerasa deket, tapi yang deketpun jadi kerasa jauh. Gw kerasa banget, kalo lagi makan malem sama keluarga misalnya. Semua orang sibuk ngecek Blackberrynya masing-masing. Dari informasi yang penting, sampe broadcast-broadcast ga penting, semuanya penasaran diliat, penasaran dibaca. Secara gw lagi gak tinggal bareng bonyok, pas weekend pas bisa ngumpul malah pada asik sendiri sama BBnya. Buat apa kita ngeladenin orang yang jauh, yang bahkan mungkin gak se-urgent itu, tapi malah nyuekin orang-orang yang ada disekitar kita? Apa esensinya alat komunikasi kalo gitu. Iya, bisa bikin kita berkomunikasi yang jauh, tapi ngilangin esensi komunikasi sama yang deket.

Terus twitter. Biasanya orang-orang meskipun lagi bareng-bareng, sebelah-sebelahan, malah sibuk ngetweet sana-sini. Meskipun yang di tweet recent event nya, tapi tetep aja woy yang bales juga biasanya orang yang lagi bareng-bareng. Misalnya ya @anakanak ngetweet : “Lagi dinner bareng @anakudang @anakteri @anakunta” terus entar gak lama kemudian di retweet sama @anakudang, @anakteri, dan @anakunta. Woy orangnya lagi disebelah lo woy.

Terus hologram itu juga bikin gw serem. Bukannya gw parno teknologi atau gw kayak nenek-nenek yang anti sama kemajuan jaman. Tapi bayangin deh, orang jadi males nempuh jarak jauh-jauh untuk bertemu in person dengan seseorang. Gara-gara ada teknologi ini. Mungkin aja kan? Padahal, buat gw kehadiran orang in person itu jelas banget efek emosional sama psikologisnya beda. Terus lagi, kalo lo sibuk holograman sama orang-orang yang lagi jauh sama lo, terus orang-orang disekitar kita mau dikemanain coba? Dari pengalaman gw yang pernah tinggal superjauh dari ortu, dan biasanya mengobati rindu via webcam, tapi tetep aja cuuy, beda rasanya.

intinya, gw sangat menyayangkan kalo teknologi ini malah disalahgunain kalo kita pakenya berlebihan. bisa-bisa kita jadi anak-anak instant, anak-anak yang gak pernah berusaha, kita gak bisa ngerasain naik pesawat berjam-jam hanya untuk ketemu orang tersayang yang jauh disana, atau bisa-bisa kita jadi gak sabaran. Badan kita ada disini, tapi otak sama hati kita kemana-mana. Kita jadi gak bisa nikmatin masa sekarang, dimana sekarang itu adalah present, yang gak bisa balik lagi.

gw sih juga berharap yang gw prediksiin ini gak bakal terjadi. seru juga sih kayaknya holograman sama emak gw kalo gw uda pindah ke kutub utara pas umur gw 30an nanti seperti cita-cita gw, mau bisnis jualan es serut disono. tapi tetep aja gw ada parnonya. semoga ini gak kejadian ya. semoga kita dapet yang keren-kerennya aja ya. semoga kita bisa memanfaatkan segala kemajuan ini dengan bijaksana ya. Amin

Salam damai saudara-saudari!


Kuliahnya Kak Adi Panuntun

Hello saudara saudari! Jadi Senin kemarin kita anak-anak kelas Creative and Innovation dapet kuliah asik dari bang Adi Panuntun lulusan FSRD ITB, yang bikin film cin(t)a, juga promotor video mapping di Indonesia. Secara garis besar, kuliah yang diberikan oleh Ka Adi ini isinya tentang Design Thinking. Konsep Design Thinking ini mengajak kita untuk berpikir secara analitik sekaligus kreatif. Ada beberapa quotes-quotes yang gak kalah keren dari accountnya @ihatequotes yang gw dapet di kelas ini.

“Put your empathy to your (potentital) customer
Kalo kita mau bikin sesuatu, atau ngedesain sesuatu, kita harus bener-bener mikirin nantinya, kira-kira orang yang memakai produk kita bakal kayak gimana ya responnya? Nyaman kah? Sampai kah ke objektifnya?
Contoh : Botol coca-cola didesain sedemikian rupa seperti badan cewek sehingga kalo atlet-atlet minum abis olahraga dan tangan keringetannya ga bikin itu gampang jatuh. Nah, ini, kita harus berpikir kalo kita jadi atlitnya. 😀
The main design of Coca-Cola

“Liat dari perspektif lain”
Dulu yang foundernya teh botol sosro sama aqua diketawain banyak orang karena mau jualan teh sama air dibotolin. Haha. Kalo katanya Adi Panuntun “Coba deh cari profil nya orang yang ngetawain mereka, nemu gak di google?”
Bener juga sih! 😉

“Asumsi bakal ngebatasin kita”
Ini statement yang paling nampol gw sih. Emang bener, gw seringkali ngedapetin diri gw stuck di satu titik gara-gara asumsi. Asumsi kalo gw ga bisa, atau takut opini orang. Asumsi yang kita bikin dari dalem diri sendiri, ataupun public assumption/public statement, emang seringnya bakal ngebatasin kita untuk ngeluarin ide-ide gila yang seringkali keliatan jeniusnya gak saat itu juga.

“Utamain Exploration daripada Exploitation
Ini yang dilakuin sama Steve Jobs dengan Applenya. Ia terus menerus mengeksplor dari produk-produknya, apa yang kurang, apa yang bisa di kembangin. Dari iPod, jadi iPod touch, terus jadi iPhone, sekarang ada iPad. Beliau ini setiap abis ngeluncurin produk, selalu melihat peluang apalagi yang bisa dieksplor disana. Meskipun dengan sejalannya waktu, exploration dan exploitation ini bakal berjalan beringiringan dan alangkah baiknya kalo memiliki proporsi seimbang diantara keduanya.
Apple Product Development

DESIGN THINKING PROCESS
1. Observe : What people like? Make a quotes of it!
2. Synthesize : Write down the emotion and non-emotion root causes.
3. Brainstorm : Di proses ini, jangan pernah menjudge ide yang muncul. Tulisin aja semua.
4. Vote : Semua ide yang uda muncul, pilih berdasarkan desirable (Human Interest), viability (Economy, Business), and feasibility (Supporting Technology)
5. Prototype : Kita harus menciptakan experience dari ide tersebut makanya dibuat prototype atau uji coba.
6. Storytell : Nah, ini cara kita marketinginnya. Setiap ide pasti punya cerita dibaliknya. Atau kalo gak adapun, kita bisa membuat sesuatu yang tadinya gak ada, jadi ada. Mau liat gimana gw mencoba mengaplikasikannya? Cek disini. Gw coba bikin cerita gimana cara mengkoneksikan apel dan marker sehingga mereka punya relasi konsep yang similiar.

Di kuliah ini gw juga sempet dikasih case, ini dia case nya :

Explain about changes in the retail marketplace over the next 10 years and how we should response. Suppose 2 different classes tackle the issue :
– traditional business strategy class
– innovation & design class
Will they do differently to answer the challenge?

Menjawab case ini, jelas akan ada perubahan dalam retail marketplace untuk 10 tahun kedepan.
Untuk traditional business strategy atau strategi bisnis pada umumnya, yang udah digunakan sejak dulu, memang banyak yang sudah terbukti sukses. Mereka cenderung dengan menggunakan analisis data dan bukti-bukti yang mendukung sehingga dalam setiap pengambilan keputusan, analisis mereka menjadi dasar landasannya.

Sementara itu, jika kita menggunakan pendekatan design thinking seperti yang diajarkan di innovation & design class, dalam mengembangkan setiap produk, kita akan menitikberatkan pada human interest. Pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul dan harus dijawab akan menjadi “apa yang orang inginkan, apa yang mereka sukai?” “seperti apa kebutuhannya?”. Mereka akan mencari permasalahan-permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari dan mencoba mencari solusinya. Not always find the best solution, but also the better solution.

Menurut opini gw, kalo retail market ke depannya bisa bisa aja kok pake dua pendekatan ini. Kayaknya sih enaknya, ketika mau nge-develop suatu produk, kita mulai dengan pendekatan design thinking. Terus, setelah idenya dieksekusi melalui prototype, baru kita bisa lempar ke pasar, lihat bagaimana reaksi pasar, dan secara pasarnya emang super gede biasanya, harus secara analitik dan sistematik nyari datanya biar valid. Gimanapun juga, ngembangin sebuah bisnis itu harus seimbang antara analysis sama kreatifitas, kayak yang dibilang sama Adi Panuntun.

Kurang lebih gini deh kuliah asik tentang Design Thinking itu! Don’t forget, always try to push the boundaries because you’ll never know how high you can fly if you never try. 😉