Global Traveler Community Video

Berikut adalah video gambaran tentang Global Traveler Community sebagai tugas tambahan dari apa yang pernah saya post sebelumnya di sini.

Kurang lebih, ini merupakan sebuah jaringan untuk traveler dari seluruh penjuru dunia, dimana mereka bisa menjalin jejaring sosial, mendapatkan banyak informasi tentang traveling, tips-tips hasil sharing antar traveler, dan juga membership yang memberikan banyak diskon dan keuntungan terutama untuk para budget traveler. Pendapatan dari jejaring sosial ini didapat dari partnership yang memasang iklan di web, dan juga biaya membership sebanyak 10 USD per orang, per tahunnya. Dengan mengutamakan High Technology di bidang IT dan network yang luas, diharapkan Global Traveler Community dapat menarik jutaan traveler dari seluruh dunia.


Sour Sally

Sour Sally Business Model

Jarang sekali warga kota Jakarta dan sekitarnya yang tidak akrab dengan Sour Sally. Sebagai pelopor Premium Frozen Yoghurt di Indonesia, tidak heran jika Sour Sally menjadi top of mind para customernya. Namun ternyata tidak banyak yang tahu bahwa perintis owner dari Sour Sally adalah orang Indonesia yang tidak lain adalah Donny Pramono yang berhasil membawa trend Frozen Yoghurt ke Indonesia dari Amerika.

Sour Sally Frozen Yoghurt

Sour Sally memberi warna tersendiri terhadap produk varian dessert yang ada di Indonesia. Branding dengan warna-warna pastel, image yang segar, dan icon Sally yang menarik merupakan racikan bisnis yang sempurna yang membuat mereka tepat sasaran terhadap target market mereka yaitu masyarakat urban modern. Konsistensi dari setiap service dan layout design di setiap outlet mereka membuat mereka benar-benar terlihat professional, sekaligus begitu terlihat international.

Untuk business modelnya, secara general, pendapatan mereka berasal dari penjualan mereka. Untuk menjalin relasi yang baik dengan customer mereka, mereka juga memiliki membership dan juga beberapa seasonal promotion untuk pemegang kartu kredit BCA dan HSBC misalnya seperti buy one get one free atau up size. Cost mereka kurang lebih adalah untuk partnership, management, dan biaya promosi lainnya.

Go International
Hingga saat ini, satu-satunya branch Sour Sally yang ada di luar Indonesia ada di Wisma Astria, Singapore. Dengan besarnya pasar Frozen Yoghurt di luar sana, ini merupakan peluang besar bagi Sour Sally untuk melakukan expansi pasar ke luar negeri. Terlebih, image dan bahasa yang dibawa oleh Sour Sally merupakan image global yang tidak kalah dengan perusahaan-perusahaan besar yang sudah berdiri lama jauh sebelumnya.

Issue kesehatan yang sudah menjadi issue global sekarang juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu bagi Sour Sally yang juga bisa membantu menurunkan kolesterol. Menurut saya dengan brand dan marketing strategy yang Sour Sally miliki sekarang dipadu dengan issue dan trend yang sedang berlangsung di pasar merupakan sebuah moment yang sempurna bagi PT Berjaya Sally Ceria untuk bermain di kancah International. Belum lagi ditambah dengan respon yang bagus dari para customer di Singapore.

Mungkin, kalau business model Sour Sally bisa dijadikan franchise international hasilnya bisa sekaliber seperti Auntie Anne’s, Haagen Daz, atau DQ Julius kali ya? Jadi pendapatannya pun juga bisa didapat dari persenan penjualan para franchiser-franchiser nya. Dan modal yang diperlukan juga menjadi tidak terlalu banyak. Bisa dibilang ini menjadi business yang low-cost tapi high-profit.

Anyway, mau tau lebih banyak tentang Sour Sally? Silahkan berkunjung ke website dengan layout lucu, interaktif, dan khas Sour Sally banget di http://www.hellosoursally.com/ dan http://www.mysoursally.com/


Sepenggal Perjalanan

Selama prosesnya, kuliah Creativity and Innovation ini telah banyak menstimulan otak kanan saya. Dari proses berpikir kreatif, jenis dan contoh-contoh dari bisnis model, inspirasi dari dosen tamu, hingga banyak case, produk, dan perusahaan-perusahaan yang sukses karena inovasi-inovasinya.

Dimulai dari post pertama, ketika saya diminta untuk mencari arti nama saya pada post pertama, dan melihat post dari teman-teman lain bahwa mereka benar-benar mencari arti nama mereka, lalu saya berpikir, ini kan kelas creativity and innovation, kenapa saya tidak mengira-ngira atau mengandai-andai saja arti namanya? Dengan kata lain, saya merasa bahwa di kelas ini selain distimulan untuk “menemukan” tapi saya juga diajarkan untuk “menciptakan” sesuatu yang baru. Hal yang sama terjadi pada post kedua, kami diminta untuk membuat post tentang senjata. Setelah berolah pikir, ternyata senjata bisa berupa banyak hal. Tidak selalu berbentuk pistol atau pedang. Bertamasya ke blog-blog teman-teman sekelas benar-benar memperkaya gudang “persenjataan” saya.

Dalam perjalanannya, saya juga mengerti lebih dalam tentang perbedaan antara kreativitas dan inovasi. Ketika kreativitas berarti mengolah pikiran-pikiran kita untuk menciptakan sesuatu yang baru, inovasi merupakan sebuah pengemasan namun dengan cara yang lebih baru lagi. Kurang lebih, creativity & innovation ini merupakan alat untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang kita temui dalam kehidupan kita atau solusi dan jawaban untuk mengatasinya. See, how important it is for us to have such a creativity and innovation skill in our life?

Di kelas ini juga kita distimulasi tidak hanya untuk berpikir kreatif, tetapi juga analitis. Di post berikutnya, kita diajak untuk menganalisis hal yang paling inovatif di dalam segi apapun dalam kehidupan kita. Dan saya memilih “Pintu Kemana Saja”-nya Doraemon sebagai hal yang paling inovatif dalam imajinasi saya. Berdasar pada kecintaan saya pada traveling dan jalan-jalan, jadi menurut saya pintu kemana saja merupakan hal yang luar biasa jika itu benar-benar ada. Cita-cita saya untuk keliling dunia sebelum umur 26 akan jauh lebih mudah tercapai kalau saya memilikinya. Haha.

Analisis selanjutnya dilakukan lebih serius yaitu kita harus menganalis bagaimana teknologi, proses, dan business model dari perusahaan-perusahaan top dunia. Dan sebagai pengguna Apple yang tidak terlalu setia (karena sejak ada Blackberry, iPhone saya bertransformasi menjadi iPod touch), saya merasa inovasi yang dilakukan oleh Steve Jobs memang begitu luar biasa. Dari sana saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, bagaimana teknologi dan proses dari perusahaan ini bisa berjalan. Yang paling mengejutkan untuk saya, dalam proses inovasinya, Apple tidak pernah melakukan market research! Well, no wonder why they can be so amazingly creative and the great thing is they still can reach their target market.

Post selanjutnya merupakan tugas-tugas yang diberikan untuk merangkum kuliah dari dosen tamu Kak Adi Panuntun. Ketika saya diminta untuk menghubungkan spidol dan apel, saya memilih untuk mengungkapkannya melalui cerita yang dikemas seperti dongeng cerita anak. Disini saya distimulasi untuk bercerita. Didalam real bisnis, produk-produk kita harus punya value, dan dari value itu kita harus bisa bercerita.

Begitu banyak masukan dan insight dari kuliah Kak Adi Panuntun saat itu. Mendapat pengajaran dari seorang praktisi di bidang kreatif sungguh memberi dampak tersendiri bagi saya untuk melihat aplikasi nyata bahwa kreatif itu tidak melulu berbicara tentang estetika dan desain, tapi lebih kepada proses dan penemuan solusi-solusi yang dimana akan selalu menuntut saya untuk terus berinovasi jika saya ingin berkecimpung di bidang wirausaha nantinya.

Inovasi selalu berjalan berdampingan bersama dengan teknologi. Berangkat dari sana, kami diajak untuk melihat teknologi jauh kedepan dengan melihat mimpi dari NTT Docomo yang membuat saya takjub dan takut dalam waktu yang bersamaan. Di video ini jelas dipaparkan segala sisi positif dari segala kemajuan teknologi, yang dimana semuanya cenderung mengarah pada arus informasi dan komunikasi. Namun disisi lain, melihat kemajuan teknologi ini juga membuat saya takut bahwa teknologi ini bisa mengurangi banyak sisi humanis yang tidak diperkirakan sebelumnya. Ini membuat saya berpikir kembali, kira-kira peluang apa di luar sana yang bisa membawa peradaban menjadi lebih maju namun tetap membawa sisi-sisi kemanusian tetap pada peradabannya.

Setelah diberi banyak pengetahuan tentang business model, kami diajak untuk mengaplikasikannya dengan membuat business model dengan beberapa topik pilihan. Saya memilih Global Traveler Community sebagai contoh saya pada saat itu. Disini saya diajak berpikir tentang basis value nya, apa saja yang menyebabkan cost dari bisnis ini, dan darimana saya bisa memperoleh profit dari bisnis model yang saya buat. Skema business model yang diajarkan di kelas ini seperti merangkum apa yang telah saya pelajari selama hampir 3 tahun kuliah di SBM. Sangat aplikatif dan ini bisa dijadikan dasar untuk memulai maupun mengevaluasi rencana bisnis secara nyata.

Bisa dibilang, kelas ini telah banyak menginspirasi saya dari setiap teori dan berbagai praktek yang diberikan. Mengajak kita untuk keluar dari setiap batasan asumsi lalu beranjak keluar dari ruang pikiran kita, dan mengajak kita duduk sejenak, berefleksi dari sisi lain yang belum pernah kita explorasi sebelumnya. Ternyata memang benar, begitu banyak sudut yang belum kita lihat, ternyata horizon itu memang lebih luas daripada kelihatannya.

Singkatnya, bagi saya, kuliah Creativity & Innovation seperti memakaikan kacamata baru bagi setiap mahasiswanya.

Salam kreatif!